Ada 3 tujuan tempat survai yang kita laksanakan tanggal 20 Desember
2011. Berangkat dari Yogyakarta sekitar jam 19.00 wib langsung menunju
ke Jl Pasar Wage, Bumiayu. Kontak person yang telah kita kantongi adalah
Pak Hadiyanto. Siangnya telah kita kontak bahwa sampai di Bumiayu
perkiraan kami tengah malam. Dan benar, sekitar
jam 24.30 wib kita sampai di depan rumahnya. Namun ternyata kita belum
beruntung,berkali-kali rumahnya kita ketok-ketok tak ada yang membukakan
pintu. Berkali-kali juga no hp nya kita hubungi, ada nada sambung
tetapi tidak diangkat. Akhirnya kita putuskan kirim sms bahwa kita
meluncur ke Bandung dan sudah sampai dengan benar di depan rumah Pak
Hadiyanto. Jam 05 pagi tgl 21/12/2011 kita dapat balesan sms bahwa
semalem dia ketiduran, asem...
Tujuan kedua adalah kontak person atas nama Pak Beni Sarbeni dari dusun
Batumahpar, Desa Bantarkalong, Cipatujah, Tasikmalaya. Kita sampai di
Cipatujah sekitar jam 07 pagi dan kontak person telah terhubung. Kita
tanya alamat tersebut diwarung Cibereum sambil sarapan pagi saja.
Setelah berhasil bertemu dengan Pak Beni ternyata dia tidak sanggup dan
tidak fight untuk mensuplai pisang yang spesifikasinya kita sampaikan.
Mereka pada umumnya borong berbagai jenis pisang dengan kualitas rendah
dan dengan handling pasca panen sangat kasar (ditumpuk-tumpuk di bak
belakang mobil). Rasanya kita sudah patah semangat, tetapi nyali sebagai
wiraswasta harus kita bangkitkan lagi meski di jalanan celethukan kita
sudah bernada sumbang. Dan saat itu kita putuskan segera ke Bandung
Barat karena masih ada satu kontak person yang harus kita temui.
Sampai ditanjakan Nagrek yang sering terjadi kecelakaan, saya mencoba
telpon ke Yahyawan (kontak person di Bandung Barat), ternyata sambung
dan kita dipandu untuk masuk tol Cilenyui setelah dari Nagrek. Nanti
keluarnya di Cipageran. Akhirnya sampai ke alamat yang dituju sekitar
jam 14.00 wib. Kondisi kita sudah agak kuyu karena belum makan siang dan
belum sempat mandi, tapi hati sudah tidak nyaman saja karena target
hanya untuk melihat tundunan pisang yang melimpah belum bisa tercapai.
Setelah ngobrol say helo sebentar, Mas Yahyawan langsung kita ajak
survai di daerah Ngamprah, Bandung Barat. Sopir Sunu kita tinggal di
rumah Mas Yahyawan, biar ada waktu untuk istirahat dan kami bertiga lah
yang survai. Ternyata disini banyak pisang ambon lumut, tetapi ya
itu...handling pasca panennya jelek dan kasar, tundunan pisang
ditumpuk-tumpuk dengan kasar baik saat angkut dari petani maupun
sesampai di pengepul. Ini perlu edukasi yang intens untuk memperoleh
bahan baku pisang yang sesuai dengan spesifikaasi kita. Kita coba beli
satu tandan pisang ambon lumut, kita boleh pilih dan setelah disisir
beratnya ada 20 kg dengan harga Rp 3000 per kg sehingga total Rp 60.000.
Sampai disini kita masih belum melihat pisang raja yang katanya
melimpah. Akhirnya dengan Mas Yahyawan kita diajak ke Cianjur yang
jaraknya sekitar 60 km dari Bandung. Kepalang basah, kita harus ke sana
untuk membuktikannya. Eduan, perut lapar sudah tak terasa lagi karena
perasaan campur aduk akan target untuk memperoleh pisang raja yang masih
gelap. Perjalanan 2,5 jam terasa amat lama dan setelah sampai ditempat
hanya ada beberapa tundun pisang raja yang kualitasnya jauh dari harapan
kita. Lemaslah badan ini! Rasa lapar mulai muncul lagi dan saat itu
hari sudah selepas mahgrib. Kita balik ke arah Bandung dan mampir untuk
isi perut dahulu dengan nasi goreng di pedagang kaki lima.
Saat makan nasi goreng dari K5, Mas Yahyawan sempat nyelethuk "Sorri Mas
Hanung, kita gagal total kali ini." Saya langsung menjawab "Bukan
begitu Mas, sebagai pengusaha tidak boleh kita kalah oleh suatu
kegagalan, pasti ada hikmahnya dan pasti ada celahnya. Kitalah yang
harus membuat celah itu sendiri. Nah sekarang tugas Mas Yahyawan adalah
memberi edukasi kepada pengepul yang di Ngamprah (pisang ambon lumut).
Kita tadi sempat menawar Rp 2500 per kg boleh, dan kita boleh pilih
tundunan yang kualitasnya baik.Cuma pengepul itu hanya sanggup 2 - 3
kwintal. Tolong pengepul ini sering dikunjungi dan diberi
motivasi,edukasi sehingga jumlahnya pisang ambon lumut yang masuk ke
spesifikasi kita bisa mencapai 1,5 ton, okay?" Mas Yahyawan langsung
mengangguk mantab sambil menjawab "Siap Mas. Saya jadi lega atas
penjelasan Mas Hanung barusan." Penjelasan selanjutnya saya sambung
begini "Mas Yahyawan, survai ini saya ibaratkan investasi, saya harus
keluar duit, waktu dan tenaga untuk datang ke sini. Saya berani
investasi karena ada harapan. Dan hanya andalah yang bisa membuat
harapan itu menjadi kenyataan. Jelas bukan bahwa keberhasilan kami
tergantung sama sampiyan, tolong dirawat pengepul tadi dan tolong
hunting lagi pengepul seperti tadi yang punya banyak pisang raja. Saya
akan datang ke sini lagi hanya dengan target mengambil pisang ambon
lumut itu paling tidak 1,5 ton, siap?" Mas Yahyawan manggut-manggut dan
berkata dengan mantab "Okay Mas."
Sampai di Bandung sekitar jam 8 malam. Kondisi gerimis, badan lemas
karena target tak seindah harapan. Setelah Pak Dhe Ayah dan Sunu sopir
mandi, saya malas mandi (2 hari tanpa mandi), kita langsung balik ke
Yogyakarta. Sampai Dipowinatan tgl 22/12/11 sekitar jam 07.30. Saya
langsung mandi, sarapan bareng dan berangkat ke kantor. Pak Dhe Ayah
balik ke Semarang. Marilah kita tetap semangat, kerja, kerja dan
kerja....
Salam manis.