Kamis, 22 Desember 2011

Bandung Banana Tour

Ada  3 tujuan tempat survai yang kita laksanakan tanggal 20 Desember 2011. Berangkat dari Yogyakarta sekitar jam 19.00 wib langsung menunju ke Jl Pasar Wage, Bumiayu. Kontak person yang telah kita kantongi adalah Pak Hadiyanto. Siangnya telah kita kontak bahwa sampai di Bumiayu perkiraan kami tengah malam. Dan benar, sekitar jam 24.30 wib kita sampai di depan rumahnya. Namun ternyata kita belum beruntung,berkali-kali rumahnya kita ketok-ketok tak ada yang membukakan pintu. Berkali-kali juga no hp nya kita hubungi, ada nada sambung tetapi tidak diangkat. Akhirnya kita putuskan kirim sms bahwa kita meluncur ke Bandung dan sudah sampai dengan benar di depan rumah Pak Hadiyanto.  Jam 05 pagi tgl 21/12/2011 kita dapat balesan sms bahwa semalem dia ketiduran, asem...
 
Tujuan kedua adalah kontak person atas nama Pak Beni Sarbeni dari dusun Batumahpar, Desa Bantarkalong, Cipatujah, Tasikmalaya. Kita sampai di Cipatujah sekitar jam 07 pagi dan kontak person telah terhubung. Kita tanya alamat tersebut diwarung Cibereum sambil sarapan pagi saja. Setelah berhasil bertemu dengan Pak Beni ternyata dia tidak sanggup dan tidak fight untuk mensuplai pisang yang spesifikasinya kita sampaikan. Mereka pada umumnya borong berbagai jenis pisang dengan kualitas rendah dan dengan handling pasca panen sangat kasar (ditumpuk-tumpuk di bak belakang mobil). Rasanya kita sudah patah semangat, tetapi nyali sebagai wiraswasta harus kita bangkitkan lagi meski di jalanan celethukan kita sudah bernada sumbang. Dan saat itu kita putuskan segera ke Bandung Barat karena masih ada satu kontak person yang harus kita temui.
 
Sampai ditanjakan Nagrek yang sering terjadi kecelakaan, saya mencoba telpon ke Yahyawan (kontak person di Bandung Barat), ternyata sambung dan kita dipandu untuk masuk tol Cilenyui setelah dari Nagrek. Nanti keluarnya di Cipageran. Akhirnya sampai ke alamat yang dituju  sekitar jam 14.00 wib. Kondisi kita sudah agak kuyu karena belum makan siang dan belum sempat mandi, tapi hati sudah tidak nyaman saja karena target hanya untuk melihat tundunan pisang yang melimpah belum bisa tercapai. Setelah ngobrol say helo sebentar, Mas Yahyawan langsung kita ajak survai di daerah Ngamprah, Bandung Barat. Sopir Sunu kita tinggal di rumah Mas Yahyawan, biar ada waktu untuk istirahat dan kami bertiga lah yang survai. Ternyata disini banyak pisang ambon lumut, tetapi ya itu...handling pasca panennya jelek dan kasar, tundunan pisang ditumpuk-tumpuk dengan kasar baik saat angkut dari petani maupun sesampai di pengepul. Ini perlu edukasi yang intens untuk memperoleh bahan baku pisang yang sesuai dengan spesifikaasi kita. Kita coba beli satu tandan pisang ambon lumut, kita boleh pilih dan setelah disisir beratnya ada 20 kg dengan harga Rp 3000 per kg sehingga total Rp 60.000.
 
Sampai disini kita masih belum melihat pisang raja yang katanya melimpah. Akhirnya dengan Mas Yahyawan kita diajak ke Cianjur yang jaraknya sekitar 60 km dari Bandung. Kepalang basah, kita harus ke sana untuk membuktikannya. Eduan, perut lapar sudah tak terasa lagi karena perasaan campur aduk akan target untuk memperoleh pisang raja yang masih gelap. Perjalanan 2,5 jam terasa amat lama dan setelah sampai ditempat hanya ada beberapa tundun pisang raja yang kualitasnya jauh dari harapan kita. Lemaslah badan ini! Rasa lapar mulai muncul lagi dan saat itu hari sudah selepas mahgrib. Kita balik ke arah Bandung dan mampir untuk  isi perut dahulu dengan nasi goreng di pedagang kaki lima.
 
Saat makan nasi goreng dari K5, Mas Yahyawan sempat nyelethuk "Sorri Mas Hanung, kita gagal total kali ini." Saya langsung menjawab "Bukan begitu Mas, sebagai pengusaha tidak boleh kita kalah oleh suatu kegagalan, pasti ada hikmahnya dan pasti ada celahnya. Kitalah yang harus membuat celah itu sendiri. Nah sekarang tugas Mas Yahyawan adalah memberi edukasi kepada pengepul yang di Ngamprah (pisang ambon lumut). Kita tadi sempat menawar Rp 2500 per kg boleh, dan kita boleh pilih tundunan yang kualitasnya baik.Cuma pengepul itu hanya sanggup 2 - 3 kwintal. Tolong pengepul ini sering dikunjungi dan diberi motivasi,edukasi sehingga jumlahnya pisang ambon lumut yang masuk ke spesifikasi kita bisa mencapai 1,5 ton, okay?" Mas Yahyawan langsung mengangguk mantab sambil menjawab "Siap Mas. Saya jadi lega atas penjelasan Mas Hanung barusan." Penjelasan selanjutnya saya sambung begini "Mas Yahyawan, survai ini saya ibaratkan investasi, saya harus keluar duit, waktu dan tenaga untuk datang ke sini. Saya berani investasi karena ada harapan. Dan hanya andalah yang bisa membuat harapan itu menjadi kenyataan. Jelas bukan bahwa keberhasilan kami tergantung sama sampiyan, tolong dirawat pengepul tadi dan tolong hunting lagi pengepul seperti tadi yang punya banyak pisang raja. Saya akan datang ke sini lagi hanya dengan target mengambil pisang ambon lumut itu paling tidak 1,5 ton, siap?" Mas Yahyawan manggut-manggut dan berkata dengan mantab "Okay Mas."
 
Sampai di Bandung sekitar jam 8 malam. Kondisi gerimis, badan lemas karena target tak seindah harapan. Setelah Pak Dhe Ayah dan Sunu sopir mandi, saya malas mandi (2 hari tanpa mandi), kita langsung balik ke Yogyakarta. Sampai Dipowinatan tgl 22/12/11 sekitar jam 07.30. Saya langsung mandi, sarapan bareng dan berangkat ke kantor. Pak Dhe Ayah balik ke Semarang. Marilah kita tetap semangat, kerja, kerja dan kerja....
 
Salam manis.

1 komentar:

  1. PAK, SAYA DISTRIBUTOR PISANG RAJA ASAL SUKABUMI, JAWA BARAT. SAYA MEMBUTUHKAN 2000 SISIR PISANG RAJA SETIAP MINGGUNYA. BISA KIRIM KE SUKABUMI TIDAK PAK? MENGENAI HARGA TOLONG DI EMAIL wuppet.lima@gmail.com

    BalasHapus